AnswerThisView only
Shared answer · view only
BPShared by Bening Puspa Dewi · Sep 30
LoginSign up
Other/bantu saya mencari teori mengenai Etnosains dengan sumber jurnal internasional bereputasi dengan sitasi yang valid
bantu saya mencari teori mengenai Etnosains dengan sumber jurnal internasional bereputasi dengan sitasi yang valid. teori sumber lebih dari 10 jurnal

Inti teori Etnosains

Etnosains adalah pendekatan untuk mempelajari bagaimana suatu komunitas mengorganisasi, memberi nama, mengklasifikasi, dan menggunakan pengetahuan tentang dunia. Istilah ini memiliki dua pengertian yang saling berkaitan: metodologi etnosemantik untuk merekonstruksi “tata bahasa budaya” melalui elicitation dan analisis bahasa, serta bidang kajian substantif mengenai domain pengetahuan rakyat yang berpadanan dengan ilmu-ilmu formal, terutama pengetahuan lingkungan dan etnobiologi (Ellen, 2018). Dalam sejarah antropologi, etnosains berkembang dari antropologi kognitif pada 1950-an dan memandang kebudayaan terutama sebagai sistem pengetahuan atau organisasi konseptual, bukan hanya kumpulan benda dan perilaku (Putra, 2021).

1. Teori kognitif dan perspektif emik

Landasan pertama ialah teori bahwa kebudayaan dapat dipahami melalui struktur kognitif yang dimiliki dan dibagikan anggota masyarakat. Wallace menjelaskan bahwa antropologi kognitif berusaha mengungkap struktur abstrak di balik perilaku melalui analisis simbolik, termasuk analisis taksonomi rakyat dan “folk science” (Wallace, 1962). Karena itu, unit analisis etnosains bukan semata-mata objek alam, melainkan cara masyarakat mempersepsi, menamai, menghubungkan, dan menjelaskan objek tersebut.

Perspektif emik menempatkan kategori lokal sebagai titik awal penelitian. Etnografi semantik menggunakan pemetaan tingkat kontras, analisis komponensial, programmed specification, dan aturan semantik untuk merekonstruksi pola makna dari istilah serta pernyataan penutur (Colby, 1966). Pendekatan ini menuntut validasi dari informan dan kehati-hatian dalam menerjemahkan istilah lokal agar peneliti tidak mengganti kategori masyarakat dengan kategori akademiknya sendiri (Colby, 1966).

Namun, kategori budaya tidak boleh diperlakukan sebagai sistem yang sepenuhnya seragam atau statis. Kritik terhadap antropologi kognitif menyoroti persoalan “psychological reality”, perbedaan antara kompetensi dan performansi, tingkat keterbagian pengetahuan, serta sudut pandang penjelasan (Rubinstein, 1981). Kajian lintas budaya juga menunjukkan bahwa kategori terbentuk melalui interaksi antara struktur lingkungan dan proses konstruktif pengamat; data lintas budaya dapat membantu membedakan aspek yang spesifik secara budaya dari aspek yang mungkin bersifat universal (Malt, 1995).

2. Teori etnosemantik dan klasifikasi folk

Landasan kedua ialah etnosemantik: pengetahuan lokal dianalisis melalui bahasa, istilah, relasi makna, dan aturan pengelompokan. Dalam teori ini, nama bukan sekadar label, tetapi petunjuk terhadap cara suatu komunitas membangun domain pengetahuan. Kajian klasifikasi antropologis menerapkan kerangka ini pada istilah warna, klasifikasi biologis, dan terminologi kekerabatan, dengan perhatian pada kategori, ciri pembeda, dan struktur sistem klasifikasi (Eastman, 1994).

Konsep pentingnya adalah folk taxonomy, yaitu sistem pengelompokan lokal—misalnya tumbuhan, hewan, penyakit, ruang, atau alat—yang dapat memiliki tingkatan dan relasi berbeda dari taksonomi ilmiah Barat. Berlin, Breedlove, dan Raven menunjukkan bahwa penelitian lapangan tentang klasifikasi tumbuhan dan hewan memungkinkan dirumuskan generalisasi mengenai cara masyarakat non-Barat menamai dan mengatur dunia biologis (Berlin, 1973). Akan tetapi, kategori yang penting tidak selalu memiliki label tunggal. Berlin, Breedlove, dan Raven menunjukkan bahwa kategori tanpa nama eksplisit dapat berperan penting dalam struktur taksonomi dan justru dapat hilang bila analisis hanya berfokus pada unit yang diberi label (Breedlove, 1968).

Teori ini juga memunculkan perdebatan tentang universalisme. Atran berargumen bahwa life forms dalam klasifikasi botani rakyat menunjukkan pola yang tidak dapat direduksi menjadi kebiasaan sosial praktis semata, tetapi tetap berbeda dari taksonomi ilmiah dalam makna dan domain objeknya (Atran, 1985). Sebaliknya, Hunn menekankan bahwa klasifikasi harus dibaca bersama fungsi praktisnya: pengetahuan digunakan untuk mengarahkan tindakan, sehingga teori perlu memperhatikan kegunaan adaptif dan “activity signature” setiap kategori (Hunn, 1982). Dengan demikian, klasifikasi lokal sebaiknya dianalisis sekaligus sebagai struktur kognitif, sistem bahasa, dan perangkat untuk bertindak.

3. Teori pengetahuan, praktik, dan lingkungan

Landasan ketiga menghubungkan etnosains dengan etnobiologi, etnoekologi, dan pengetahuan ekologis lokal. Ellen mengkritik pandangan bahwa taksonomi hierarkis sudah cukup untuk menjelaskan klasifikasi folk. Menurutnya, konteks, fleksibilitas, penggunaan, dan proses sosial perlu dianalisis karena pola klasifikasi dapat sebagian dibentuk oleh metode peneliti, bukan hanya oleh struktur yang melekat pada data (Dilshod, 2022). Kritik ini menggeser etnosains dari pencarian “tata klasifikasi universal” menuju kajian tentang bagaimana pengetahuan terbentuk melalui pengalaman, praktik, bahasa, dan hubungan sosial.

Studi Taylor tentang masyarakat Tobelo memperlihatkan penerapan teori tersebut secara konkret. Klasifikasi tumbuhan dan hewan Tobelo berkaitan dengan morfologi dan sintaksis bahasa, perbedaan dialek, tabu penamaan, tingkat kerahasiaan pengetahuan, serta gagasan lokal tentang nama yang benar. Studi itu juga menemukan kategori tersirat, relasi hierarkis yang tidak simetris, kategori yang tumpang tindih, dan hubungan antara klasifikasi dengan kemampuan memprediksi keberadaan organisme yang belum diamati (Taylor, 2007). Temuan ini menunjukkan bahwa etnosains tidak cukup diterjemahkan sebagai “versi lokal dari sains”; ia merupakan sistem pengetahuan yang memiliki logika, nilai, dan fungsi sosialnya sendiri.

4. Teori kritik epistemologis dan anti-etnosentrisme

Landasan keempat adalah kritik terhadap etnosentrisme. Amundson memperingatkan bahwa peneliti dapat memproyeksikan epistemologinya sendiri kepada sistem pengetahuan masyarakat dan secara seragam menganggap semua kategori folk sebagai konvensi, padahal penutur mungkin menganggap kategori tersebut merepresentasikan ciri objektif dunia (Amundson, 1982). Implikasinya, penelitian etnosains perlu membedakan antara kategori linguistik, keyakinan ontologis, pengalaman empiris, dan fungsi praktis tanpa terlebih dahulu memutuskan bahwa salah satunya lebih “ilmiah”.

Keesing menunjukkan bahwa etnosains awal sangat dipengaruhi model linguistik, deskripsi emik, prosedur discovery, dan analisis korpus terbatas; perubahan dalam linguistik kemudian menantang fondasi tersebut (Keesing, 1972). Karena itu, teori etnosains kontemporer lebih kuat bila menggabungkan etnografi, linguistik, observasi praktik, dan analisis kognitif. Dalam perkembangan antropologi kognitif, pendekatan multimethod mencakup observasi partisipan, wawancara semiterstruktur, free listing, pile sorting, elicitation, tugas memori, analisis wacana, serta analisis statistik seperti clustering dan consensus analysis (Bennardo, 2014).

5. Relevansi untuk pendidikan dan penelitian Indonesia

Dalam pendidikan sains, etnosains dapat dipakai sebagai pendekatan kontekstual yang menghubungkan pengetahuan masyarakat dengan konsep ilmiah. Tinjauan terhadap 20 artikel menemukan bahwa etnosains diintegrasikan dengan pembelajaran kontekstual, kolaboratif, berbasis masalah, dan berbasis proyek; hasil yang dilaporkan mencakup peningkatan berpikir kritis, kreativitas, pemahaman konsep, literasi sains, dan keterampilan sains generik (Sari, 2023). Tinjauan sistematis lain atas 151 dokumen periode 2013–2022 melaporkan dominasi model inkuiri serta kaitan implementasi etnosains dengan berpikir kritis-analitis, keterampilan proses sains, literasi sains, konservasi, dan kepedulian lingkungan (Fahrudin, 2023).

Secara konseptual, integrasi tersebut sebaiknya tidak berhenti pada “mencocokkan” praktik lokal dengan konsep IPA. Penelitian perlu menanyakan: siapa pemilik pengetahuan, dalam bahasa apa kategori itu dibentuk, bagaimana pengetahuan diwariskan, kapan pengetahuan berlaku, apa hubungan kategori dengan tindakan, dan bagaimana proses dialognya dengan sains sekolah. Kerangka ini menghindari dua reduksi: menganggap pengetahuan lokal hanya sebagai fakta tradisional yang harus divalidasi oleh sains, atau sebaliknya menganggap semua klaim lokal otomatis setara dengan pengetahuan ilmiah. Etnosains yang kuat mempertahankan konteks budaya sekaligus menguji klaim secara transparan.

Lebih dari 10 sumber jurnal internasional yang relevan

  1. Colby et al. (1966), “Ethnographic Semantics: A Preliminary Survey,” American Anthropologist, DOI: 10.1086/200660. Artikel fondasional tentang analisis komponensial, pemetaan kontras, dan elicitation semantik (Colby, 1966).
  2. Berlin, Breedlove, dan Raven (1968), “Covert Categories and Folk Taxonomies,” American Anthropologist, DOI: 10.1525/aa.1968.70.2.02a00050. Dasar teori kategori tersirat dalam taksonomi folk (Breedlove, 1968).
  3. Keesing (1972), “Paradigms Lost: The New Ethnography and the New Linguistics,” Southwestern Journal of Anthropology, DOI: 10.1086/soutjanth.28.4.3629315. Kritik terhadap fondasi linguistik etnosains awal (Keesing, 1972).
  4. Berlin, Breedlove, dan Raven (1973), “General Principles of Classification and Nomenclature in Folk Biology,” American Anthropologist, DOI: 10.1525/aa.1973.75.1.02a00140. Perumusan prinsip umum klasifikasi dan penamaan biologis folk (Berlin, 1973).
  5. Hunn (1975), “Folk Biology: A Frontier of Cognitive Anthropology,” Annual Review of Anthropology, DOI: 10.1080/00988157.1975.9977170. Artikel penting yang menempatkan folk biology dalam antropologi kognitif (Hunn, 1975).
  6. Brown et al. (1976), “Some General Principles of Biological and Non-Biological Folk Classification,” American Ethnologist, DOI: 10.1525/ae.1976.3.1.02a00050. Pengujian apakah prinsip klasifikasi folk juga berlaku di luar biologi (Brown, 1976).
  7. Ryan (1978), “Ethnoscience and Problems of Method in the Social Scientific Study of Religion,” Journal for the Scientific Study of Religion, DOI: 10.2307/3710444. Penerapan metode etnosains pada simbol dan sistem keagamaan (Ryan, 1978).
  8. Rubinstein (1981), “Toward the Anthropological Study of Cognitive Performance,” Human Factors, DOI: 10.1177/001872678103400804. Kritik terhadap asumsi psikologis dan perbedaan kompetensi-performansi (Rubinstein, 1981).
  9. Hunn (1982), “The Utilitarian Factor in Folk Biological Classification,” American Anthropologist, DOI: 10.1525/AA.1982.84.4.02A00070. Artikel ini mengusulkan agar klasifikasi biologis folk dianalisis melalui fungsi praktis pengetahuan, perilaku adaptif, dan “activity signature” setiap kategori (Hunn, 1982).
  10. Amundson (1982), “Science, Ethnoscience, and Ethnocentrism,” Social Studies of Science, DOI: 10.1086/289052. Kritik epistemologis terhadap proyeksi kategori peneliti (Amundson, 1982).
  11. Hays (1983), “Ndumba Folk Biology and General Principles of Ethnobotanical Classification and Nomenclature,” American Anthropologist, DOI: 10.1525/aa.1983.85.3.02a00050. Pengujian prinsip Berlin pada masyarakat Papua Nugini (Hays, 1983).
  12. Atran (1985), “The Nature of Folk-Botanical Life Forms,” American Anthropologist, DOI: 10.1525/aa.1985.87.2.02a00040. Teori tentang life forms, universalisme, dan perbedaan folk taxonomy–taksonomi ilmiah (Atran, 1985).
  13. Ellen (1986), “Ethnobiology, Cognition and the Structure of Prehension: Some General Theoretical Notes,” Journal of Ethnobiology, DOI: 10.1080/00988157.1986.9977720. Kritik terhadap model taksonomi yang terlalu kaku dan usulan pendekatan kognitif-sosial (Dilshod, 2022).
  14. Eastman (1994), “Anthropological Perspectives on Classification Systems,” Alphanumeric Journal, DOI: 10.7152/acro.v5i1.13777. Tinjauan lintas domain mengenai kategori, fitur, dan struktur klasifikasi (Eastman, 1994).
  15. Malt (1995), “Category Coherence in Cross-Cultural Perspective,” Cognition, DOI: 10.1006/cogp.1995.1013. Dasar psikologi lintas budaya untuk membedakan konstruksi kategori dan struktur lingkungan (Malt, 1995).
  16. Friedberg (1997), “Ethnoscience et sciences cognitives,” Journal des Anthropologues, DOI: 10.3406/jda.1997.2045. Hubungan etnosains dengan proses kognitif, persepsi, penamaan, dan klasifikasi tumbuhan (Friedberg, 1997).
  17. Dedrick (1998), “Culture in Cognitive Science,” Behavioral and Brain Sciences, DOI: 10.1017/S0140525X98241276. Integrasi kekhususan budaya dengan teori kognitif lintas budaya (Dedrick, 1998).
  18. VanPool dan VanPool (2009), “The Semantics of Local Knowledge,” Journal of Archaeological Research, DOI: 10.3998/jar.0521004.0065.401. Model etnosemantik untuk merekonstruksi pengetahuan lokal dan folk taxonomy (VanPool, 2009).
  19. Bennardo (2014), “Cognitive Anthropology’s Contributions to Cognitive Science,” Topics in Cognitive Science, DOI: 10.1111/tops.12052. Perkembangan metodologi multimethod dalam antropologi kognitif (Bennardo, 2014).
  20. Taylor (2007), “Folk Biology of the Tobelo People: A Study in Folk Classification,” Smithsonian Contributions to Anthropology, DOI: 10.5479/si.00810223.34.1. Studi empiris mendalam mengenai klasifikasi lokal masyarakat Tobelo di Maluku (Taylor, 2007).

Untuk landasan teori yang paling kuat, gunakan sumber nomor 1–5 sebagai fondasi historis, nomor 8–13 untuk kritik dan pengembangan teori, serta nomor 14–20 untuk perspektif kognitif, etnosemantik, dan penerapan empiris. Perlu dicatat bahwa beberapa hasil penelusuran tentang “ethnoscience” adalah artikel tinjauan pendidikan atau bab ensiklopedia, sehingga tidak saya jadikan inti daftar jurnal di atas; daftar utama diprioritaskan pada artikel yang memiliki metadata jurnal dan DOI yang dapat ditelusuri.

Follow-up

Save

Citation Lists

Paul Michael Taylor · 2007 ·

Roy Ellen · 2018 · The International Encyclopedia of Anthropology

Terence E. Hays · 1983 · American Anthropologist

Suggested next steps

Run a sensitivity analysisTurn this into a reportAnalyze an uploaded PDFEdit the draftExport the extraction table
TRY:
History

Loading sources…

Q1

bantu saya mencari teori mengenai Etnosains dengan sumber jurnal internasional bereputasi dengan sitasi yang valid. teori sumber lebih dari 10 jurnal

Abstract
Relevant extracts
Source 1: Folk Biology of the Tobelo People: A Study in Folk Classification

Paul Michael Taylor · 2007

10.5479/si.00810223.34.1">https://doi.org/10.5479/si.00810223.34.1</a&gt

The This ethnographic study of folk biology among the Tobelo (a West Papuan-speaking ethnic group of Halmahera Island, Maluku, Indonesia) outlines local cultural presumptions about classifying flora and fauna, describes the system of folk biological nomenclature in terms consistent with the morphology and syntax of the Tobelo language, and analyzes the local system of folk classification within a…

Not available
Source 2: Ethnoscience

Roy Ellen · 2018 · The International Encyclopedia of Anthropology

10.1002/9781118924396.wbiea1417

The term “ethnoscience” describes a methodology and a field of substantive investigation. As a methodology, ethnoscience refers to research protocols that developed within US ethnosemantics of the 1960s, in which the objective was to use strict elicitation techniques to produce a “cultural grammar.” In its second sense, ethnoscience refers to the study of those folk cultural domains that approxima…

Not available
Source 3: Ndumba Folk Biology and General Principles of Ethnobotanical Classification and Nomenclature

Terence E. Hays · 1983 · American Anthropologist · 80 citations

10.1525/aa.1983.85.3.02a00050

Brent Berlin's proposed “general principles of classification and nomenclature” are examined as they apply to folk biology in Ndumba, a Papua New Guinea highlands society. Focusing on Ndumba folk zoology, supplemented with a previous analysis of their folk botany, Berlin's analytical schema for ethnobiological classification is supported, but principles of nomenclature in ethnobiology appear to be…

Not available
Source 4: Ethnographic Semantics: A Preliminary Survey [and Comments and Replies]

Benjamin N. Colby, Olga Akhmánova, +16 · 1966 · Current Anthropology · 33 citations

10.1086/200660

Ethnographic semantics is the description of semantic characteristics that are culturally revealing. In anthropology it has come to include a number of different types of analysis which have so far been used mostly in studies of kinship and folk science. These are contrast-level mapping, componential analysis, programmed specification, and various uses of semantic rules, notably reduction analysis…

Not available
Source 5: Anthropological Perspectives on Classification Systems

Caroline M. Eastman · 1994 · Advances in Classification Research Online · 1 citations

10.7152/acro.v5i1.13777

'Some anthropological perspectives on classification systems are presented here. Such systems have been extensively studied by cognitive anthropologists; the area of work is often referred to as ethnoscience.We summarize work related to three specific domains: color terms, biological classifications, and kinship terminology. Some generalizations that can be drawn from this work involve categories,…

Not available
Source 6: Culture in cognitive science

Don Dedrick · 1998 · Behavioral and Brain Sciences · 2 citations

10.1017/s0140525x98241276

A concern for cultural specificity, the staple of traditional anthropological research, survives the transition to domain-specific accounts of cognitive structuring such as Atran's, and is arguably better off for having made the transition. The identification of domain-specific processes provide us with criteria for sorting cultural differences and integrating cultural concerns within cognitive sc…

Not available
Source 7: Folk biology: A frontier of cognitive anthropology

Eugene S. Hunn · 1975 · Reviews in Anthropology · 2 citations

10.1080/00988157.1975.9977170

Brent Berlin, Dennis E. Breedlove, and Peter H. Raven. Principles of Tzeltal Plant Classification: An Introduction to the Botanical Ethnography of a Mayan‐Speaking People of Highland Chiapas. New York and London: Academic Press, 1974. xxii + 660 pp. Tables, figures, maps, illustrations, appendixes, references, and indexes. $39.50 (cloth).

Not available
Source 8: some general principles of biological and non‐biological folk classification1

Cecil H. Brown, J Kolár, +3 · 1976 · American Ethnologist · 53 citations

10.1525/ae.1976.3.1.02a00050

Principles of taxonomy and nomenclature in folk biology first outlined by Berlin, Breedlove, and Raven (1973) are shown to extend to non‐biological and non‐taxonomic folk classification. Four non‐biological taxonomies, American English “automobile” and “tool” taxonomies, a Finnish “winter vehicle” taxonomy, and a Thai “spiritghosts” taxonomy, are presented which clearly manifest so‐called “biologi…

Not available
Source 9: Toward the Anthropological Study of Cognitive Performance

Robert A. Rubinstein · 1981 · Human Relations · 4 citations

10.1177/001872678103400804

This paper examines the logical and empirical basis for cognitive analysis in anthropology. A review of the assumptions that cognitive anthropology makes about the nature of human cognition and behavior is followed by a critical discussion focusing on four problems: (1) the psychological reality of analyses, (2) the competence versus performance dichotomy, (3) the sharedness of cognitive systems,…

Not available
Source 10: Science, Ethnoscience, and Ethnocentrism

Ron Amundson · 1982 · Philosophy of Science · 8 citations

10.1086/289052

The conventionalist epistemology of cultural anthropology can be seen to be embedded in the methods of ‘cognitive anthropology’, the study of folk conceptual systems. These methods result in indiscriminately depicting all folk systems as conventional, whether or not the systems are intended by the native to represent objective features of the world. Hypothetical and actual ethnographic situations…

Not available
25 sources · 0 selected
1 / 3